Riski – Solusi Integrasi Lingkungan dan Ekonomi di Pakisaji

"Apa yang bisa kulakukan untuk desaku?" Berawal dari sebuah kegelisahan, dengan dukungan dan inspirasi dari keluarga dan teman-teman, Riski mampu menjalankan inisiatifnya untuk mengatasi masalah lingkungan serta ekonomi guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desanya.

Pembaharuan membutuhkan kolaborasi dan kerjasama. Prinsip gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia merupakan wujud dari kedua elemen tersebut. Riski memegang teguh prinsip ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui pengoptimalan kekuatan diri anak muda di komunitasnya. Ia berusaha mencari solusi yang menyeluruh untuk menangani ketimpangan ekonomi dan masalah lingkungan yang ada. Melalui penataan ruang publik, pengurangan dan daur ulang sampah, serta kegiatan wirausaha masyarakat, Riski dan timnya membangun solusi dimana setiap individu merasa berdaya untuk berkontribusi dalam membawa perubahan di sekitarnya.


Ketika Riski Febrian pindah ke Desa Pakisaji di Malang, Jawa Timur, ia menemui sejumlah masalah sosial dan lingkungan di sekelilingnya. Permasalahan ini meliputi ketiadaan saluran air yang memadahi, minimnya pohon, rendahnya ekonomi dan kualitas hidup warga janda dan lansia, tidak adanya ruang publik untuk bermain, serta kurangnya keterlibatan masyarakat di lingkungan sekitar.  

Terinspirasi dari John F Kennedy yang mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan untukmu, tanyakan apa yang kamu bisa berikan untuk negaramu,” Riski yang saat itu berusia 15 tahun termotivasi untuk melakukan sesuatu dan mulai menanyakan pada dirinya, “apa yang bisa kulakukan untuk desaku?” 

Riski berterimakasih pada orang tua serta kakek-neneknya karena telah membuat ia menjadi percaya diri dan mampu untuk menemukan kekuatannya; “Mereka selalu berkata, ‘kamu bisa, kamu pasti bisa.’”  

River in Pakisaji, Malang

Sebelum pindah ke Pakisaji, pengalaman pertama Riski dalam membawa perubahan bermula ketika ia duduk di bangku SMP. Riski mengumpulkan teman-temannya untuk membersihkan sungai yang penuh dengan sampah. Melalui kegiatan tersebut, ia belajar mengenai daur ulang dan konservasi. Pengalaman ini menjadi landasan bagi Riski untuk menciptakan perubahan positif di desanya. Langkah awal yang diambilnya ialah membentuk tim, yang terdiri dari anak muda teman-teman di desa, dan menceritakan inisiatifnya ke tokoh masyarakat setempat – ketua RT salah satunya.  

Riski mendirikan gerakan Satu Cinta Lingkunganmu Membawa Kebahagiaan Tuhanmu Serta Orang Terkasih di Hidupmu dengan misi untuk memperbaiki lingkungan dan kualitas hidup masyarakat di desa-desa di Indonesia. 

Riski menyadari bahwa ada solusi ekonomi untuk permasalahan lingkungan dan solusi lingkungan untuk permasalahan ekonomi. Ia dan timnya bergerak dan berkegiatan dalam dua bidang yang saling berhubungan ini. Sebagai contoh, mereka mengembangkan bisnis daur ulang sampah bersama dengan anak muda dan janda di desanya. Anak-anak muda mengumpulkan sampah di sekitar sekolah untuk kemudian diolah oleh para janda menjadi tas dan baju yang dipasarkan secara online. Model seperti ini memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan produktif yang bermanfaat bagi lingkungan dan meningkatkan pendapatan, sehingga memutus rantai kemiskinan. 

Kita harus mulai dengan diri sendiri terlebih dahulu jika ingin melihat dunia yang lebih baik.

Di Desa Pakisaji dan halaman depan milik keluarga Riski terdapat banyak lahan kosong. Tumbuh besar dengan pekarangan yang hijau dan rindang yang ditanam oleh orangtuanya, Riski terinspirasi untuk menginisiasi projek penghijauan yang mendorong setiap rumah untuk memiliki taman kecil berisi sayuran seperti cabe, tomat, dan bawang-bawangan.

Di luar dari manfaatnya untuk lingkungan, warga juga bisa berhemat dengan memetik rempah-rempah dan sayuran segar dari pekarangannya sendiri, mereka tidak lagi perlu membeli dari orang lain. Selain itu, bersama dengan Pak RT, tim Riski juga merubah lahan kosong di desa menjadi taman bermain dan ruang bagi warga untuk bercocok tanam. Dengan partisipasi dari berbagai pihak, diharapkan setiap warga dapat berdaya mengembangkan rasa kepemilikan dan kebanggaan akan desanya. 

Awalnya, tidak semua setuju dengan ide Riski, beberapa bahkan menolak untuk berpartisipasi. Meski begitu, kritik dan penolakan ini justru membuat Riski lebih termotivasi untuk membuktikan bahwa anggapan negatif mereka itu salah dengan aksi nyata memperbaiki desa. 

A woman showing her upcycling fashion work

Sejauh ini, inisiatif Riski telah membantu lebih dari 15 janda untuk mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, Bu Muslimat salah satunya. Dulu ia bergantung pada seorang tetangga untuk mencukupi konsumsi hariannya. Kini melalui keterlibatannya dalam pembuatan kerajinan daur ulang, ia mendapatkan penghasilan yang membantunya untuk menjadi pribadi mandiri. Bagi kaum muda, kegiatan ini membangun kesadaran akan kekuatan mereka untuk membawa perubahan serta memberikan wewenang untuk menentukan pilihan.

Dari segi lingkungan, gerakan Satu Cinta Lingkunganmu berhasil mengubah desa dari tempat yang penuh dengan sampah yang tidak layak menjadi tempat dimana warga melestarikan dan berkontribusi secara berkelanjutan. Perubahan ini terbukti dengan berkurangnya banjir selama musim hujan berkat saluran air yang lebih baik dan semakin banyaknya lahan hijau di seluruh desa. 

Riski hidup dengan prinsip gotong royong, bekerja bersama sesuai kekuatan masing-masing untuk mencapai suatu hasil yang diimpikan. Ia menyadari bahwa inisiatifnya tidak akan berjalan tanpa kontribusi dari setiap anggota timnya, termasuk orangtua, kepala desa, komunitas lansia dan anak muda. Riski percaya bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri, berapapun usia kita, dan empati menjadi landasan penting sebelum kita memulai sebuah aksi. Membawa perubahan tidaklah mudah, namun tidak mustahil untuk dilakukan, “...(Kita) harus berani mengambil resiko, berani mengambil (jalan) yang mungkin dianggap aneh oleh orang lain.”